jump to navigation

Gagal Ginjal, CJH Bawa 25 Dos Obat November 11, 2009

Posted by jihanpratama in Kesehatan.
add a comment

SURABAYA – SURYA- Bagi banyak orang, keinginan untuk dapat menunaikan ibadah haji seringkali mengalahkan segalanya. Ini juga yang terjadi pada Ny Laila Mufidah, 52. Dalam kondisi gagal ginjal akut, CJH kloter 56 asal Jalan Jendral Sudirman IX/26 Taman Jenggolo Sidoarjo ini tetap mantap berangkat haji bersama suami.
Namun, dengan penyakit itu, Ny Laila yang akan terbang ke Arab Saudi Senin (9/11) pukul 22.10 WIB dengan pesawat Saudi Arabian Airlines (SAA) SV 5565 ini harus ekstrahati-hati menjaga kondisi kesehatan.

Setiap 24 jam, dia wajib mencuci darah agar kondisi kesehatan tidak semakin memburuk. “Cuci darah tiga kali sehari semalam itu harus dilakukan sendiri selama Ny Laila berada di tanah suci,” ujar dr Arif Hidayatullah, dokter kloter 56, didampingi Humas PPIH Sugianto, Senin (9/11).

Untuk mencuci darah sendiri, Ny Laila harus membawa obat-obatan cairan sebanyak 25 dos. Satu dos berisi enam bag obat-obatan cair. Obat yang dibawa ini akan dipakai untuk cuci darah sebanyak 126 kali. Ini merupakan bawaan obat-obatan terbanyak di antara jemaah haji lainnya. “Ini boleh karena pertimbangan khusus atau darurat,” jelas Sugianto.

Ny Laila direkom dokter karena bisa cuci darah mandiri. Kalau tidak, mungkin dia harus menunda ibadah haji sampai sembuh. “Karena kondisi risiko tinggi, dia (Ny Laila) harus didampingi dokter,” imbuh dr Arif.
Kiki, anak Ny Laila mengatakan, ketika mendaftar sebagai CJH, ibunya dalam kondisi sehat. Namun, sekitar Juli 2009, tiba-tiba mengalami mual dan nafsu makan berkurang. “Saat diperiksakan ke dokter, ternyata dinyatakan positif gagal ginjal,” katanya.

Sementara itu, Sidiq Muhammad Daud bin Daud, 43, dan istrinya, Ny Samsidar binti Jalil, gagal berangkat ke tanah suci. Pasalnya, pasutri asal Griyo Pabean II/A-2 RT 43/RW 14 Sedati Sidoarjo ini belum divaksin meningitis. “Kami terpaksa menunda keberangkatannya,” ujar Thohir, perwira jaga bagian kesehatan. Sesuai jadwal, Sidiq dan Ny Samsidar mestinya berangkat Senin pukul 18.10 WIB dengan pesawat SAA SV 5561.
Selain itu, Ny Machsunah binti Sukri, 35, warga Magersari RT03/RW02 Jabon Sidoarjo yang tergabung kloter 55 juga batal berangkat beserta Syamsul Hadi

http://www.surya.co.id/2009/11/10/gagal-ginjal-cjh-bawa-25-dos-obat.html

Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus Di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang November 11, 2009

Posted by jihanpratama in Uncategorized.
add a comment
Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H saat membuka Seminar dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2009, 5 November 2009 di Jakarta.

Prof. Tjandra Yoga mengatakan berdasarkan hasil Riskesdas 2007 prevalensi nasional DM berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia >15 tahun diperkotaan 5,7%. Prevalensi nasional Obesitas umum pada penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 10.3% dan sebanyak 12 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional, prevalensi nasional Obesitas sentral pada penduduk Usia ≥ 15 tahun sebesar 18,8 % dan sebanyak 17 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional. Sedangkan prevalensi TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) pada penduduk usia >15 tahun di perkotaan adalah 10.2% dan sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi diatas prevalensi nasional. Prevalensi kurang makan buah dan sayur sebesar 93,6%, dan prevalensi kurang aktifitas fisik pada penduduk >10 tahun sebesar 48,2%. Disebutkan pula bahwa prevalensi merokok setiap hari pada penduduk >10 tahun sebesar 23,7% dan prevalensi minum beralkohol dalam satu bulan terakhir adalah 4,6%.

Dalam sambutannya Prof. Tjandra Yoga menjelaskan, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin.Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini membutuhkan perhatian dan perawatan medis dalam waktu lama baik untuk mencegah komplikasi maupun perawatan sakit.

Diabetes Melitus terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunan dan tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2. Ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM. Bila dicermati, penduduk dengan obes mempunyai risiko terkena DM lebih besar dari penduduk yang tidak obes.

WHO merekomendasikan bahwa strategi yang efektif perlu dilakukan secara terintegrasi, berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas program dan lintas sektor termasuk swasta. Dengan demikian pengembangan kemitraan dengan berbagai unsur di masyarakat dan lintas sektor yang terkait dengan DM di setiap wilayah merupakan kegiatan yang penting dilakukan. Oleh karena itu, pemahaman faktor risiko DM sangat penting diketahui, dimengerti dan dapat dikendalikan oleh para pemegang program, pendidik, edukator maupun kader kesehatan di masyarakat sekitarnya.

Tujuan program pengendalian DM di Indonesia adalah terselenggaranya pengendalian faktor risiko untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan DM. Pengendalian DM lebih diprioritaskan pada pencegahan dini melalui upaya pencegahan faktor risiko DM yaitu upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif, jelas Prof. Tjandra Yoga.

Prof. Tjandra Yoga menambahkan bahwa pada Sidang Umum Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dalam press release tanggal 20 Desember 2006 telah mengeluarkan Resolusi Nomor 61/225 yang mendeklarasikan bahwa epidemic Diabetes Melitus merupakan ancaman global dan serius sebagai salah satu penyakit tidak menular yang menitik-beratkan pada pencegahan dan pelayanan diabetes di seluruh dunia. Sidang ini juga menetapkan tanggal 14 Nopember sebagai Hari Diabetes Se-Dunia (World Diabetes Day) yang dimulai tahun 2007. .

Oleh karena itu, program Pengendalian Diabetes Melitus dilaksanakan dengan prioritas upaya preventif dan promotif, dengan tidak mengabaikan upaya kuratif. Serta dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh antara Pemerintah, Masyarakat dan Swasta (LP, LS, Profesi, LSM, Perguruan Tinggi).

Sedangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575 tahun 2005, telah dibentuk Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang mempunyai tugas pokok memandirikan masyarakat untuk hidup sehat melalui pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, khususnya penyakit DM yang mempunyai faktor risiko bersama.

Sesuai dengan tema Hari Diabetes Sedunia tahun 2009, “Pahami Diabetes dan Kendalikan“, maka memahami diabetes harus dilakukan secara menyeluruh, baik faktor risikonya, diagnosanya maupun komplikasinya. Dan Kendalikan Diabetes sangatlah penting dilaksanakan sedini mungkin, untuk menghindari biaya pengobatan yang sangat mahal. Bahkan semenjak anak-anak dan remaja, gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi banyak sayur dan buah, membiasakan olah raga dan tidak merokok merupakan kebiasaan yang baik dalam pencegahan Diabetes Melitus. Oleh karena itu, peran para pendidik baik formal maupun informal, edukator DM dan para kader sangat memegang peranan penting untuk menurunkan angka kesakitan DM.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

BELUM TAHU, BKKBN DI BAWAH MENKO KESRA ATAU KEMENTERIAN LAIN November 10, 2009

Posted by jihanpratama in kinerja birokrasi.
6 comments

Sekretaris Utama BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Pusat , Sudibyo Alimoeso, menyatakan, belum mengetahui secara pasti posisi BKKBN yang baru apakah di bawah Menko Kesra atau kemeterian yang lain. Meski demikian, Sudibyo mengatakan, pihaknya tetap mempersiapkan diri sesuai dengan yang diamanatkan undang-undang.

“Yang penting adalah, BKKBN siap melaksanakan tugas sebagai Badan Kependudukan dan dalam waktu enam bulan ini mempersiapkan struktur yang baru,” kata Sudibyo.

Menjawab pertanyaan apa yang lebih diprioritaskan, kependudukan atau KB, Sudibyo menegaskan, keduanya sama pentingnya. Tetapi Sudibyo menyebutkan, masalah kependudukan sendiri ada tiga hal, yaitu masalah kualitas, kuantitas dan mobilitas penduduk.

“Masalah kuantitas dan kualitas selama ini sudah digarap BKKBN, tetapi masalah mobilitas penduduk sudah ditangani oleh Kementerian Transmigrasi. Ya, nantinya itu akan dikoordinasikan dan diformulasikan juga dengan departemen dari kementerian yang lain,” katanya.(ken/pel)

Sumber: http://www.bkkbn.go.id/Webs/DetailBerita.php?MyID=866

KEPALA BKKBN AKAN MELAPORKAN KEMAJUAN PROGRAM KB KEPADA PRESIDEN November 10, 2009

Posted by jihanpratama in balita, Indonesia Sehat 2010.
2 comments

Kepala BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Pusat Sugiri Syarief, menyatakan, tugas barunya dalam waktu dekat adalah membuat laporan kepada Presiden RI tentang kemajuan program keluarga berencana (KB), sebagai laporan 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II.

“Saya minta Direktur Analisis dan Evaluasi Program yang baru dilantik untuk ikut menyiapkannya,” kata Sugiri pada acara pelantikan pejabat eselon dua dan tiga di jajaran BKKBN, di Jakarta, Jum’at (6/11).

Sugiri juga menugaskan para pejabat yang baru dilantik untuk menyiapkan bahan-bahan Rakor Kesra setiap bulan, disamping menyiapkan pula Raker (Rapat Kerja) dengan DPR-RI. “Kita harus bisa bekerja dengan cepat dan lebih keras lagi, karena fungsi yang lebih luas menuntut performance kita,” katanya.

Sugiri juga mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara terkait perubahan struktur organisasi BKKBN, seperti BKKBN Provinsi hingga BKKBN di tingkat kabupaten/kota akan diatur tersendiri sesuai UU.

“Memang di tingkat kabupaten/kota masih ada PP 30 dan PP 41, tetapi kekuatan UU kan lebih tinggi. Oleh karena itu kami masih berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara,” katanya menjelaskan.(em/pel).

Sumber: http://www.bkkbn.go.id/Webs/DetailBerita.php?MyID=867

Ternate Kota Tertinggi Penderita Diabetes November 10, 2009

Posted by jihanpratama in Kesehatan.
4 comments

Jakarta, Penyakit diabetes sering dikaitkan dengan penyakit perubahan pola hidup dan makanan, terutama di kota-kota besar. Tapi fakta yang ditemukan Departemen Kesehatan RI tahun 2008 menunjukkan bahwa penduduk diabetes terbanyak berada di kota Ternate. Jakarta yang justru kota modern pun hanya menempati urutan ke-9. Kenapa ya?

Hal itu disampaikan oleh Dr Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD dalam acara seminar ‘Kendalikan Diabetes agar Kualitas Hidup Meningkat’ di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Senin (9/11/2009).

Jika mau dibandingkan, Jakarta sebagai kota moderen menawarkan banyak pemicu diabetes yang harusnya memiliki jumlah penderita Diabetes Melitus (DM) lebih tinggi dibanding Ternate. Tapi ternyata ada faktor lain yang menyebabkan diabetes selain masalah gaya hidup (life style).

“Penderita diabetes di Ternate adalah 11,1 persen sedangkan di Jakarta hanya 5,17 persen. Padahal di Ternate tidak ada McDonald’s atau makanan-makanan junk food yang banyak terdapat di Jakarta. Tapi kenapa jumlahnya justru paling tinggi? Itulah yang sedang kami teliti lebih lanjut,” ujar Roy.

Sementara itu, DR. dr Achmat Rudijanto, SpPD-KEMD selaku ketua Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) mengatakan bahwa ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena diabetes, diantaranya yaitu obesitas, hipertensi, ibu hamil dengan berat bayi di atas 4 kg, faktor turunan dan juga kelainan lemak (dislipidemia).

“Mungkin faktor penyebab masyarakat Ternate diabetes memang bukan pola hidup, makanan atau lifestyle. Tapi mungkin karena faktor genetik, hipertensi, kelainan lemak atau lainnya,” ujar Achmat.

Dengan adanya acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2009 yang jatuh pada tanggal 14 November nanti, diharapkan agar masyarakat lebih peduli dengan penyakit diabetes karena penyakit tersebut adalah penyakit yang paling banyak menelan korban dan biaya jika sudah masuk tahap komplikasi.

“Diabetes adalah penyakit yang dampak ekonominya cukup tinggi. Prevalensi Depkes tahun 2008 menyebutkan ada sekitar 12 juta penduduk DM di Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah jika masyarakat tidak punya kesadaran akan kesehatan yang nantinya akan menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara,” jelas Achmat.

Di dunia, urutan tertinggi penderita DM terbanyak adalah India, disusul oleh China dan Amerika. Sedangkan Indonesia berada di urutan sembilan.

Dalam acara tersebut, hadir pula Presiden Direktur Sanofi-Aventis Indonesia, Gilbert Julien yang turut berpartisipasi dalam penanganan masalah diabetes. Ia mengatakan, setiap 10 detiknya 1 orang pasien diabetes meninggal dunia. Jika dibandingkan dengan HIV, penderita DM pun masih lebih banyak, yaitu sekitar 200 juta orang.

“Meski Indonesia hanya berada di urutan 9, tapi jika dikumpulkan semua penderita DM di Indonesia, jumlahnya akan sama dengan penduduk di negara Belgia,” ujar Gilbert.

http://health.detik.com/read/2009/11/09/164052/1238325/763/ternate-kota-tertinggi-penderita-diabetes

Soal Ayat Tembakau, BK DPR Panggil Sekretaris Pansus November 10, 2009

Posted by jihanpratama in UU.
4 comments

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat terus bergerak menyelidiki kasus hilangnya ayat tembakau dari Undang-Undang Kesehatan. Pada Rabu (11/11) Badan Kehormatan merencanakan memanggil pegawai Sekretariat Jenderal DPR untuk mendapatkan keterangan.

Mengacu pada undangan yang dikirim, pegawai Setjen DPR yang akan dipanggil sebagai saksi adalah Sekretaris Pansus RUU Kesehatan dan peneliti Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi Setjen DPR.

Langkah BK DPR itu merupakan tindak lanjut langkah BK minggu lalu, yaitu memanggil Koalisi Antikorupsi Ayat Rokok (Kakar) sebagai pihak pengadu.

Ketua BK DPR Gayus Lumbuun ketika dikonfirmasi, Senin (9/11), membenarkan adanya rencana pemanggilan itu. Menurut Gayus, setelah pemanggilan pihak Setjen DPR, BK juga akan meminta keterangan saksi ahli dan yang terakhir pihak teradu, yaitu tiga pimpinan Pansus RUU Kesehatan dan pejabat di Departemen Kesehatan.

Dari berbagai jawaban yang disampaikan pihak pengadu, Gayus menilai hal itu sudah cukup menjadi dasar bagi BK sebagai sebuah pengaduan. Gayus mengestimasi, kasus ini bisa diselesaikan sekitar dua bulan.

Hilangnya ayat tembakau ini diketahui dalam dokumen RUU Kesehatan yang diantar dengan surat Ketua DPR kepada Presiden mengenai telah disetujuinya RUU itu untuk dijadikan UU yang diterima Setneg pada 28 September 2009.

Pada dokumen yang dibundel dengan sampul berlogo DPR ini Pasal 113 hanya memuat dua dari tiga ayat yang seharusnya ada seperti saat disetujui dalam Rapat Paripurna DPR, 14 September 2009. Ayat yang hilang itu tepatnya adalah Pasal 113 Ayat (2) yang mengategorikan tembakau sebagai zat adiktif. (sut)

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/11/10/08331241/Soal.Ayat.Tembakau..BK.DPR.Panggil.Sekretaris.Pansus

Pemerintah Siapkan Rancangan Jaminan Kesehatan Semesta November 10, 2009

Posted by jihanpratama in Uncategorized.
4 comments
Jakarta (ANTARA News) – Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan rancangan sistem jaminan kesehatan semesta yang akan mencakup seluruh populasi.

“Kami sedang membuat `roadmap` Jaminan Kesehatan Semesta 2014,” katanya saat melakukan rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta, Senin, yang dipimpin Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning Proletariati.

Dalam rapat dengar pendapat yang dihadiri 46 anggota komisi itu Endang mengatakan, penyusunan rancangan sistem jaminan kesehatan semesta ditargetkan selesai dalam 100 hari kerja pertamanya.

“Sekarang masih meminta masukan dari para ahli dari universitas dan organisasi profesi terkait untuk menyusun ini,” katanya.

Dia sebelumnya mengatakan, Jamkesmas secara bertahap akan dikelola menggunakan sistem asuransi kesehatan.

Asuransi kesehatan, katanya, akan menjangkau seluruh populasi, tidak hanya masyarakat miskin saja.

“Premi masyarakat miskin tetap ditanggung pemerintah, yang bekerja (ditanggung) oleh perusahaan, yang mampu bayar sendiri,” katanya.

Anggota Komisi IX dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Surya Chandra Surapaty mengatakan, pemerintah harus menyelenggarakan jaminan kesehatan dengan sistem yang sesuai dengan undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional.

Menurut undang-undang, ia menjelaskan, pengelolaan jaminan kesehatan nasional harus dilakukan oleh badan nirlaba. Lembaga yang dibentuk oleh pemerintah tersebut, kata dia, sekaligus berfungsi sebagai pengelola dana wali amanah.

Kerangka itu sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang sistem jaminan sosial nasional, namun hingga kini belum bisa dilaksanakan karena Dewan Jaminan Sosial Nasional belum menyelesaikan pembuatan peraturan pendukungnya, yakni undang-undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Peraturan lain yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan SJSN seperti peraturan pemerintah tentang penerima bantuan iuran dan peraturan pemerintah tentang jaminan kesehatan juga belum selesai.

Menurut undang-undang, semua peraturan pendukung pelaksanaan SJSN seharusnya selesai akhir Oktober 2009 dan SJSN sudah bisa dilaksanakan November 2009.

http://www.antaranews.com/berita/1257807124/pemerintah-siapkan-rancangan-jaminan-kesehatan-semesta

Puluhan Ribu Lansia di Kalteng Terlantar November 10, 2009

Posted by jihanpratama in Uncategorized.
4 comments
Palangkaraya (ANTARA News) – Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan puluhan ribu penduduk lanjut usia di wilayah itu masih terlantar karena kurang diperhatikan oleh pemerintah maupun masyarakat.

“Dari sekitar 60 ribu lansia saat ini baru sekitar dua persen saja yang telah tersentuh oleh program pemerintah, sedangkan lainnya masih kurang diperhatikan,” kata Kepala Seksi Lanjut Usia Dinas Sosial Provinsi Kalteng Budi Santoso, di Palangkaraya, Senin.

Budi menilai, ribuan lansia di berbagai kabupaten/kota se-Kalteng terus mengalami kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup karena menurunnya kemampuan fisik dan nonfisik dalam mencari pekerjaan.

Golongan penduduk itu, lanjutnya, memerlukan perhatian khusus yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya seperti pelayanan sosial dan pelayanan kesehatan, serta sangat bergantung dalam hal perumahan dan kebutuhan hariannya.

“Tiap tahun kami berupaya menambah jumlah lansia yang dapat disentuh bantuan pemerintah, tetapi semua terkendala dana yang dialokasikan selalu sangat kecil dan terbatas,” jelasnya.

Budi mengatakan, dalam tahun ini baru sebanyak 600 lansia telah mendapat bantuan dari pemerintah diantaranya berupa uang bulanan, bantuan usaha ekonomi produktif, serta tempat penampungan di panti jompo.

Ratusan lansia yang non potensial selama ini dibantu dengan bantuan dana bulanan untuk biaya hidup atau ditampung di panti jompo, sedangkan lansia potensial dibina dengan bantuan modal usaha.

Budi mengungkapkan, bantuan dana lansia nonpotensial tahun ini dianggarkan sebesar Rp75 juta per bulan dari dana APBN untuk 250 orang lansia, yakni setiap satu orang menerima Rp300 per bulan.

Bantuan tersebut diberikan untuk lansia di tiga kabupaten dan satu kota, meliputi Kota alangka Raya, Kabupaten Gunung Mas, Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur.

Sementara untuk lansia potensial, lanjutnya, sebanyak 250 orang mendapat bantuan usaha melalui usaha ekonomi produktif (UEP), dengan modal bantuan senilai Rp1 juta per orang yang dapat berupa barang maupun ternak.

Bantuan modal tersebut saat ini terbatas untuk lansia di lima kabupaten, yakni Kabupaten Pulang Pisau, Gunung Mas, Seruyan, Lamandau, dan Kotawaringin Barat.

“Selain itu terdapat 100 lansia yang ditampung di Panti Sosial Trisna Werdha Palangkaraya, karena tidak lagi memiliki sanak saudara di usia senja,” kata Budi.

Budi menambahkan, khusus untuk memperhatikan kesejahteraan lansia yang masih terlantar pihaknya telah mengusulkan penambahan pemberian bantuan agar bisa dianggarkan melalui APBD selain dukungan dari APBN.

Lebih lanjut Budi mengungkapkan, lansia di Kalteng secara umum banyak yang cukup potensial dan masih produktif untuk mendukung pembangunan daerah, salah satunya dengan memberikan sumbangan pemikiran berupa pertimbangan maupun saran untuk pemerintah, baik melalui organsisasi maupun perorangan.

http://www.antaranews.com/berita/1257807174/puluhan-ribu-lansia-di-kalteng-terlantar

Pengobatan dengan Lintah November 9, 2009

Posted by jihanpratama in Uncategorized.
4 comments
Liputan6.com, Surabaya: Seorang penyembuh alternatif di Kota Surabaya, Jawa Timur, menggunakan lintah untuk pengobatan. Meski cara pengobatan yang dilakukan Abdul Rosyid berbeda, puluhan pasien tetap rela antre. Seperti yang terlihat saat ia membuka praktik pengobatan dadakan di Jalan Kembang Kuning, Kulon Besar, Surabaya, belum lama ini.

Sebelum proses pengobatan dimulai, Abdul Rosyid akan menanyakan jenis penyakitnya. Kemudian ia memberikan tanda dibagian mana lintah akan ditempatkan. Setelah itu, sang asisten yang akan bekerja. Tanda-tanda titik yang sudah ada selanjutnya diolesi telur. Tujuannya agar lintah terpancing menyedot darah pasien.

Pengobatan dimulai. Lintah pun ditempelkan. Sang pasien harus pasrah saat darahnya disedot lintah. Tentu saja rasa geli dan jijik harus dikesampingkan sebisa mungkin demi sembuhnya penyakit.

Menurut Abdul Rosyid, praktik pengobtan dengan menggunakan lintah ini sudah dijalaninya sejak enam tahun lalu. Ia datang dari Madura khusus untuk membuka pengobatan setiap dua pekan sekali. Dalam pengobatan ini sang pasien tidak dipatok biaya. Mereka hanya memberikan uang secara sukarela sebagai ganti peralatan yang telah digunakan. Sedangkan lintah yang telah dipakai untuk terapi langsung dibuang.

http://kesehatan.liputan6.com/berita/200911/249651/Pengobatan.dengan.Lintah

Sel Punca untuk Obati AIDS dan Diabetes November 9, 2009

Posted by jihanpratama in Kesehatan.
5 comments
SURABAYA, KOMPAS.com — Universitas Airlangga, Surabaya, berhasil mengembangkan metode pemanfaatan sel punca dalam pengobatan AIDS dan diabetes melitus. Tim peneliti mengundang para dokter untuk mengujinya ke pasien.

Ketua Tim Peneliti Sel Punca Universitas Airlangga (Unair) Fedik Abdul Rantam mengatakan, riset pemanfaatan sel punca dimulai 2007. Unair memulainya dengan pengembangan untuk rekonstruksi tulang dan tendon. ”Selanjutnya kami kembangkan untuk rekonstruksi kardiovaskular dan sistem imun. Hasil in vitro (pengujian praklinis di laboratorium) bagus. Sekarang kami juga sedang uji praklinis (uji kepada hewan) dan sejauh ini cukup positif,” tutur Fedik, Jumat (6/11) di Surabaya, Jawa Timur.

Hasil riset itu diyakini bisa untuk mengobati, antara lain, AIDS dan diabetes yang selama ini dikenal tidak ada obatnya. Riset mereka memungkinkan tubuh membentuk sel baru yang sehat. Dengan sel punca, tubuh bisa membuat sel kekebalan baru pada pengidap AIDS. Adapun pada pengidap diabetes, sel punca bisa membentuk lagi sel beta pankreas yang normal.

Guru besar Virologi Unair itu mengatakan, kuncinya terletak pada metode yang memungkinkan sel punca dewasa kembali menjadi sel punca muda. Sel punca muda bisa berkembang menjadi apa saja, tergantung akan dimanfaatkan untuk apa.

Metode itu penting karena tim hanya mengambil sel punca dari orang dewasa. Sel punca itu sudah tidak mungkin berkembang lagi, kecuali mengikuti jaringan asalnya. ”Hanya sel punca embrio yang bisa berkembang menjadi apa saja. Etika tidak memungkinkan tim mengambil sel punca embrio karena sama dengan menghilangkan nyawa,” ujarnya.

Sel punca embrio hanya bisa didapat saat janin baru berusia beberapa hari. Pengambilan sel punca embrio akan sama dengan mematikan janin.

”Sebagai dokter, kami terikat sumpah untuk menyelamatkan nyawa, bukan menghilangkannya. Metode ini (pembalikan perkembangan sel punca) memungkinkan kami menyelamatkan nyawa tanpa menghilangkan nyawa lain,” katanya.

Fedik mengundang para dokter dan klinik untuk memanfaatkan hasil riset mereka terhadap pasien. Pemerintah juga diharapkan memfasilitasi pemanfaatan tersebut.

”Selama ini sel punca yang sudah dimudakan kami tidurkan agar tidak berkembang. Sayang sekali kalau hasil riset hanya ditidurkan saja seperti itu,” ungkapnya. Ketua Pusat Diabetes dan Nutrisi RSU Dr Soetomo, Surabaya, Askandar menegaskan, pihaknya menunggu perkembangan riset tim Fedik.

Pihak Pusat Diabetes dan Nutrisi sangat berharap ada metode pengobatan yang memungkinkan pengidap diabetes benar-benar sembuh. ”Obat-obatan yang ada saat ini hanya untuk mengendalikan dampak. Tidak bisa benar-benar menyembuhkan karena ada sel yang rusak,” ujarnya.

Askandar sepakat, harus ada dorongan dari pemerintah agar hasil riset itu bisa segera diaplikasikan. Apalagi, proses penelitian yang dijalankan sama sekali tidak melanggar etika. ”Kalau bisa, uji klinis dan sukses, ini akan menjadi sejarah pengobatan,” katanya.

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/11/07/09254194/sel.punca.untuk.obati.aids.dan.diabetes